Bukan Sekadar Perlombaan, Trail of the Kings Bisa Menjadi Gerbang Danau Toba Menuju Pariwisata Dunia

  



Samosir, NINNA.ID — Ketika ribuan pelari dari berbagai negara menembus jalur hutan, perbukitan, dan desa-desa di Kabupaten Samosir dalam ajang Trail of the Kings (TOTK), banyak masyarakat mungkin bertanya mengapa orang rela datang dari tempat yang begitu jauh hanya untuk berlari melewati alam yang berat?

Bagi Paul Huddle, Senior Director of Global Trail Running Operations at IRONMAN Group, jawabannya sederhana. Para pelari trail bukan sekadar mengejar garis finis. Mereka datang untuk merasakan alam, mengenal sebuah tempat, dan berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di dalamnya.

“Orang-orang penyuka olahraga ini mencintai alam terbuka. Mereka suka merasakan alam di mana pun mereka pergi. Bahkan bagi para pelari, cara terbaik untuk mengenal suatu tempat adalah dengan berjalan kaki atau berlari, bukan hanya naik kendaraan atau tinggal di hotel,” kata Paul saat berbincang di sela penyelenggaraan Trail of the Kings di Samosir.

Pandangan tersebut menjelaskan mengapa wisata trail running menjadi salah satu sektor pariwisata yang berkembang paling cepat di dunia.

Nilai pasar wisata trail running global mencapai USD 12,3 miliar pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 25,7 miliar pada 2033 dengan pertumbuhan tahunan sebesar 8,7 persen.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman yang menggabungkan aktivitas fisik, alam, kesehatan, dan interaksi budaya dengan masyarakat lokal.

Bagi Danau Toba, perubahan tren wisata ini membuka peluang besar.

Keindahan Alam Saja Tidak Cukup, Pengalaman Menjadi Kunci

Paul menjelaskan bahwa syarat utama sebuah lomba dapat menjadi bagian dari UTMB World Series adalah kualitas pengalaman berlari yang luar biasa.

 

Menurutnya, sebuah perlombaan memang membutuhkan fasilitas pendukung seperti hotel, restoran, dan layanan wisata lainnya.

Namun, yang paling penting adalah lintasan yang memberikan pengalaman yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.

“Orang mengikuti lomba UTMB karena mereka ingin mendapatkan pengalaman berlari yang luar biasa. Tentu ada faktor komunitas, hotel, restoran, dan semua hal yang berhubungan dengan pariwisata, tetapi yang paling penting adalah pengalaman berlari itu sendiri,” ujarnya.

Karena itulah, menurut Paul, Trail of the Kings memiliki modal yang sangat kuat. Jalur-jalur di Samosir menawarkan panorama yang indah dan memiliki potensi yang masih bisa terus dikembangkan.

“Ketika melihat jalur-jalur di sini, saya rasa kita baru menyentuh sebagian kecil dari potensinya. Masih banyak jalur yang mungkin bisa dikembangkan, tetapi apa yang ada sekarang sudah sangat indah dan saya pikir para pelari menikmatinya.”

Bahkan ia menilai Trail of the Kings saat ini telah memiliki fondasi untuk berkembang menjadi lomba kelas dunia.

“Lomba ini sudah memiliki kerangka dan fondasi untuk menjadi perlombaan yang benar-benar hebat. Yang dibutuhkan sekarang adalah penyempurnaan dari detail-detail operasional.”

Masyarakat Batak Kekuatan Terbesar Danau Toba

Salah satu hal yang paling mengesankan bagi Paul selama beberapa hari berada di Danau Toba bukan hanya alamnya, tetapi masyarakatnya.

“Bagi saya, ini sederhana. Yang paling berkesan adalah orang-orangnya. Semua perlombaan kami berada di tempat yang indah, tetapi yang selalu membuat perbedaan adalah masyarakatnya.”

Ia secara khusus mengingat momen ketika mengunjungi titik-titik aid station yang berada di sekolah-sekolah. Anak-anak menampilkan pertunjukan budaya Batak untuk menyambut para pelari yang datang dengan kondisi kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.

Paul melihat secara langsung bagaimana ekspresi para pelari berubah ketika disambut dengan senyum dan tarian budaya.

“Ketika seorang pelari sedang berada dalam kondisi sulit, mereka membutuhkan dukungan. Saya melihat banyak pelari datang ke aid station, mata mereka langsung berbinar, mereka tersenyum, dan semangat mereka kembali.”

[caption id="attachment_37553" align="alignnone" width="720"]sambutan hangat masyarakat Batak Sambutan hangat masyarakat dan pertunjukan budaya di setiap aid station menjadi energi baru bagi para pelari Trail of the Kings. Dukungan sederhana berupa senyuman dan semangat mampu mengembalikan tenaga mereka untuk melanjutkan perjalanan. (screenshot IG peserta lari Trail of the Kings)[/caption]

Pernyataan itu sekaligus menjadi jawaban atas anggapan sebagian orang bahwa masyarakat Batak kurang cocok bekerja dalam sektor pariwisata.

“Pernyataan itu jelas tidak benar,” kata Paul ketika ditanya apakah masyarakat Batak kurang memiliki kemampuan dalam hal keramahan wisata.

Menurutnya, antusiasme masyarakat yang dengan bangga memperlihatkan budaya mereka justru merupakan daya tarik yang tidak dapat dibuat secara artifisial.

“Mereka terlihat benar-benar bahagia memperlihatkan budaya mereka. Mereka tersenyum dan terlihat sangat terlibat. Itu adalah sesuatu yang sangat istimewa.”

[caption id="attachment_37554" align="alignnone" width="720"]ANAK-ANAK MENYAPA PARA PELARI Di tengah rasa lelah setelah menaklukkan lintasan panjang, senyum dan sambutan masyarakat Batak menjadi sumber kekuatan baru bagi para pelari. Di aid station, bukan hanya tubuh yang diisi kembali, tetapi juga semangat.[/caption]

Manfaat Trail of the Kings Tidak Berhenti di Hari Perlombaan

Menurut Paul, ketika sebuah daerah menjadi tuan rumah lomba dalam jaringan UTMB World Series, manfaat yang paling mudah dilihat adalah dampak ekonomi langsung.

Pelari dan pendamping membutuhkan tempat menginap, makan di restoran, menggunakan transportasi, hingga berbelanja di toko-toko lokal.

“Manfaat yang paling jelas adalah ekonomi. Orang tinggal di hotel, membelanjakan uang di restoran dan toko-toko.”

Namun menurutnya, ada manfaat yang sering tidak dihitung, yaitu nilai promosi yang diterima sebuah destinasi melalui media.

“Manfaat media adalah sesuatu yang sering dilewatkan. Sangat sulit menghitung nilainya dengan angka, tetapi memperkenalkan sebuah tempat kepada dunia adalah sesuatu yang sangat besar.”

Hal ini menjadi sangat relevan bagi Danau Toba. Setiap foto pelari yang membagikan pemandangan kaldera, setiap video tentang budaya Batak, dan setiap cerita pengalaman selama berada di Samosir adalah promosi yang menjangkau ribuan bahkan jutaan calon wisatawan.

Tidak Hanya Uang, Trail Running Juga Mengubah Cara Berpikir Masyarakat

Dalam pengalaman Paul selama lebih dari 35 tahun bekerja di dunia penyelenggaraan event olahraga, dampak sebuah perlombaan tidak hanya terlihat dari sisi ekonomi.

Ia pernah melihat bagaimana kehadiran event olahraga memunculkan kedai kopi kecil, usaha lokal baru, hingga menginspirasi masyarakat setempat untuk ikut menjadi pelari.

“Kadang kami kehilangan sukarelawan kami karena tahun berikutnya mereka ikut menjadi peserta lomba,” ujarnya sambil tertawa.

Bagi anak-anak dan generasi muda, melihat pelari dari berbagai usia dan latar belakang memberikan pesan bahwa tantangan besar dapat dicapai melalui latihan dan kedisiplinan.

“Semua orang bisa melakukannya jika mereka mau dan mau berusaha. Saya pikir banyak orang melihat olahraga ini sebagai sesuatu yang tidak mungkin bagi mereka, tetapi sebenarnya bisa dicapai.”

Masa Depan Trail of the Kings Ada di Tangan Masyarakat Danau Toba

Paul mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah perlombaan tidak boleh hanya diukur dari seberapa cepat jumlah pesertanya bertambah.

Menurutnya, pemasaran terbaik bagi sebuah event adalah pengalaman peserta pada tahun sebelumnya.

“Pemasaran terbaik untuk sebuah lomba adalah lomba tahun lalu. Ketika seseorang pulang dan berkata kepada temannya, ‘Kamu harus datang ke lomba ini karena luar biasa’, itulah promosi terbaik.”

Karena itu, pembangunan Trail of the Kings membutuhkan visi bersama. Bukan hanya pemerintah atau penyelenggara, tetapi seluruh masyarakat.

Menurut Paul, setiap komunitas harus bertanya bagaimana mereka ingin memperlihatkan daerahnya kepada dunia dan bagaimana mereka ingin menggunakan event ini untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Danau Toba tidak perlu menjadi Chamonix di Prancis untuk dianggap berhasil. Ia harus menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Dengan kekayaan alam Kaldera Toba, budaya Batak yang hidup, serta masyarakat yang ramah dan bangga memperlihatkan identitasnya, Trail of the Kings memiliki peluang untuk tumbuh menjadi salah satu destinasi trail running paling penting di Asia.

Namun perjalanan menuju ke sana harus dilakukan selangkah demi selangkah—sama seperti seorang pelari menaklukkan sebuah lintasan panjang.

Karena pada akhirnya, bukan hanya para pelari yang sedang menempuh perjalanan. Masyarakat Danau Toba juga sedang berlari menuju masa depan baru pariwisata mereka.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

Comments

Popular posts from this blog

Desa-Desa di Samosir Siap Menyukseskan Pelaksanaan Trail of The Kings

Meet Damayanti Sinaga—Guiding You to the Soul of Sumatra

Juara TOTK 100K Sebut Danau Toba Salah Satu Lintasan Terindah